Ngawi,.... Bukan Sekedar Lintasan

12 Desember 2012, 21:21:10 / Berita / Hits : 3335 / Posted by
Ngawi,.... Bukan Sekedar  Lintasan

     Menepi, meyalip dengan sikap bersabar dan berhati-hati diperlukan kalaulah mengendarai mobil di antara kepadatan lalu lintas dan laju kendaraan bermotor roda empat dan roda dua. Dari arah Surabaya menuju Solo, jawa tengah atau jogyakarta. Apalagi lewat jalur tengah pulau Jawa, maka tidak ada jalan raya lain kecuali melewati kota Ngawi. Kota yang terletak di perbatasan Jatim dan Jateng. Kalaulah orang orang yang bepergian itu tidak lapar atau haus, atau ingin membeli oleh oleh berupa kripik tempe, mereka tak perlu berhenti di kota lintasan ataupun kota transit itu. Bablas terus arah barat ataupun sebaliknya.

     Banyak orang yang bertujuan kepentingan Bisnis, Keluarga, berwisata atau naik bus khusus, yang harus lewat jalur itu. Ribuan orang masuk atau keluar kawasan Ngawi yang menggunakan jalur dari atau ke arah Caruban atau Madiun ataupun dari arah Magetan. Sesekali bilamana dicegat, lalu ditanyai, apakah mereka sudah pernah menengok yang dinamai Benteng Pendem di Ngawi..?, atau pernah singgah di Museum Trinil yang bernilai sains international yang menyimpan fosil-fosil manusia prasejarah Jawa yang dinamai Pithecanthropus erectus atau “manusia purba Jawa atau makluk yang berjalan tegak..?. Ataukah pernah mendengar tentang perkebunan Teh Jamus yang memproduksi teh jenis khusus, sekaligus lokasinya untk wisata alam dan terbang layang (para sailing)..? Belum lagi kalau ditanyakan, apa saja potensi pertaniannya, terutama berbagai jenis buah buahan yang merupakan komoditi perdagangan di pasar lokal maupun regional. Jawaban paling banyak ialah belum atau tidak. Banyak orang beranggapan Kabupaten yang dulu-dulunya bercitra “ kering”, begitu pula masih ada anggapan orang luar daerah seperti itu hingga kini.

     Dianggap tidak mempunyai potensi perekonomian, apabila pada sektor kepariwisataannya. Pelintas antar provinsi hanya melihat sekilas, memang ada monumen Gubernur Suryo di tengah hutan jati yang terlihat sepi, Cuma itu saja. Pandangan demikian itulah yang menjadikan Bupati Ngawi Ir. Budi Sulistiono, menjadi gerah. Meskipun daerah itu berasal dari kata awi (berrarti bambu), namun yang dijual dari kerajinan bambu dan barang-barang bambu pun tak nampak menonjol di sepanjang jalan. Padahal, kenyataannya bila dihitung, obyek wisata di Kabupaten Ngawi lebih dari 22 Obyek wisata yang potensial untuk dikunjungi oleh masyarakat lokal, wisatawan regional atau nusantara dan ada juga wisatawan manca negara yang melakukan perjalanan darat dari jogyakarta ke Bali atau sebaliknya.

     Karenanya, Bupati membuat program pariwisata berkelanjutan (the sustainable tourism) tahun ini hingga 2014 dengan menjadikan obyek-obyek wisatanya tidak hanya untuk masyarakat lokal Ngawi saja, tetapi harus dikenal keluar batas kabupatennya. Obyek-obyek yang sedang direvitalisasi sebagian di kota, tetapi obyek –obyek lainnya di kawasan lereng gunung lawu yang berwujud Agrowisata “perkebunan teh Jamus” , wisata air ( waduk pondok dan sangiran), wisata sejarah/pendidikan sampai dengan wisata spiritual/relegi yang jumlahnya cukup banyak dan ada yang terkenal bagi para penganutnya hingga sampai di jakarta dan di kawasan asia. Yang paling populer adalah Pesanggerahan Srigati di tepian hutan Desa Babadan Kecamatan paron. Dipercaya sebagai petilasan (peninggalan) Prabu Brawijaya, Raja kerajaan Majapahit. Mereka percaya kuluk (Mahkota) raja itu diletakkan di sana, namun kini tertutup timbunan bebatuan, sehingga dibuatlah replikanya yang din taruh di sebuah bangunan cungkup. Pada hari hari tertentu dalam bulan jawa Syuro, di lakukan upacara ritual (ganti langse) diikuti tirakatan dan semedi. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar pesanggerahan tersebut merupakan pusat keraton (Istana) mahluk-makluk halus di sekitar Gunung lawu.

     Lain lagi kisah dan wajah Benteng Pendem yang masih utuh, di dalam kota Ngawi, aslinya bernama Benteng Van den Bosch. Yang didirikan selama lebih lima tahun(1839-1845) itu guna mencegah serbuan pasukan Wirotani selaku pengikut Pangeran Diponegoro. Benteng yang waktu itu tidak hanya dijaga 250 serdadu Belanda pimpinan Van den Bosch, tetapi juga ada seorang dokter militer bernama Eugene Dubois, sebagai paleonthopolog yang selaku pengikut teori Charles Darwin, kerjanya bukan berperang tetapi justru meneliti manusia missing link dan binatang-binatang purba, yang akhirnya (1891) menemukannya di Trinil, desa yang berada di tepian Bengawan Solo, di perbatasan Kabupaten Ngawi dengan Kabupaten Sragen (Jateng). Meskipun benteng bersejarah itu seharusnya di bawah lindungan Kementrian Pendidikan dan Kebuayaan, namun kini masih di bawah naungan Kesatuan Militer (TNI). Akan panjang kalau dikisahkan potensi-potensi unik di Kabupaten Ngawi, apalalgi masih banyak obyek-obyek tempat kunjungan masyarakat lokal Ngawi, dan Ngawi ternyata bukan hanya tempat lintasan perjalanan antar provinsi... Disadur dari tulisan Amak Syarifudin


Tags : latief123

Berita Lainnya :

Tinggalkan Komentar Anda

Nama
URL
Komentar
Kode Verifikasi 148 + 7 = ?

Sosial Media

Facebook
Twitter

Link Terkait

Kabupaten Ngawi
Provinsi Jatim

Jajak Pendapat

Desain website ini menurut anda?

Statistik Pengunjung

Pengunjung Saat Ini 1
Total Hits 512233
Total Pengunjung 182375
IP Anda 35.175.190.77